Langsung ke konten utama

KENAPA LEBIH BANYAK ANAK MENDAPAT WARISAN DIBANDINGKAN ORANG TUA?


Bagian 3

 Harta peninggalan simanyit kenapa lebih banyak diberikan ke anaknya berbandingkan orang tuanya,

Padahal hak orang tua lebih besar berbandingkan hak anak..?

Dalilnya Allah dalam firmannya menyertai menta'atiNya dengan menta'ati kedua orang tua.

{ ۞وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعۡبُدُوٓاْ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلۡوَٰلِدَيۡنِ إِحۡسَٰنًاۚ إِمَّا يَبۡلُغَنَّ عِندَكَ ٱلۡكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوۡ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفّٖ وَلَا تَنۡهَرۡهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوۡلٗا كَرِيمٗا }

Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.

( Q.S Al-Isra' Ayat 23 )


___________


Mengenai pertanyaan diatas Imam Fakhrur Razi menjawab

"Hikmahnya pada kebiasaan kedua orang tua sisa umurnya lebih sedikit dibandingkan sisa umurnya anak,

Maka kebutuhan orang tua lebih sedikit dibandingkan kebutuhan sianak.


فَإِنْ قِيلَ لَا شَكَّ أَنَّ حَقَّ الْوَالِدَيْنِ أَعْظَمُ مِنْ حَقِّ الْوَلَدِ؛ لِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَرَنَ طَاعَتَهُ بِطَاعَتِهِمَا فَقَالَ تَعَالَى: {وَقَضَى رَبُّكَ أَلا تَعْبُدُوا إِلا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا} [الإسراء: ٢٣] فَإِنْ كَانَ كَذَلِكَ فَمَا الْحِكْمَةُ فِي أَنَّهُ جَعَلَ نَصِيبَ الْأَوْلَادِ أَكْثَرَ. وَأَجَابَ عَنْهُ الْإِمَامُ الرَّازِيّ حَيْثُ قَالَ: الْحِكْمَةُ أَنَّ الْوَالِدَيْنِ مَا بَقِيَ مِنْ عُمْرِهِمَا إلَّا الْقَلِيلُ أَيْ غَالِبًا فَكَانَ احْتِيَاجُهُمَا إلَى الْمَالِ قَلِيلًا، وَأَمَّا الْأَوْلَادُ فَهُمْ فِي زَمَنِ الصِّبَا فَكَانَ احْتِيَاجُهُمْ إلَى الْمَالِ كَثِيرًا فَظَهَرَ الْفَرْقُ

( Hasyiah Bujairimi 3 hal 252 )


وَإِنَّمَا فَضَّلَ الْفُرُوعَ عَلَى الْأُصُولِ؛ لِقِلَّةِ عُمْرِ الْأُصُولِ وَطُولِ عُمْرِ الْفُرُوعِ غَالِبًا فَاحْتِيَاجُهُمْ أَكْثَرُ كَمَا قَالَهُ الْفَخْرُ الرَّازِيّ

( Hasyiah bujairimi 3 hal 253 )

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BAGAIMANA HUKUM MAKAN KEPITING...?

📗 كتاب عيش البحر 📗 في بيان الحيوان الذي لا يعيش الا في البحر والذي يعيش في البر والبحر ⁦✍️⁩ للشيخ محمد أنوار البتاعي الإندونيسي رحمه الله تعالى https://drive.google.com/file/d/1b6Y6XPNNaBlzl0I3z18rsScylIoj5Xrd/view?usp=drivesdk Fikih Kuliner: Aisyul Bahri, Kitab Ulama Batang yang Hilang Penulis: Zaim Ahya Senin, 24 Desember 2018 Kitab Aisyul Bahri karya Kiai Anwar Batang ini menjelaskan tentang hewan-hewan yang hanya hidup di laut (air), dan hewan yang hidup di laut dan darat, beserta status hukum mengonsumsinya. Kitab ini pertama kali penulis dengar dari Kiai Dimyati Rois Kaliwungu. Kiai yang juga petani sekaligus politisi ini, dalam beberapa kali ceramahnya, mengisahkan, bahwa Kiai Anwar Batang itu satu masa dengan Kiai Nawawi Banten dan Kiai Kholil Bangkalan. Bahkan, menurut Abah Dem (panggilan santri dan masyarakat kepada beliau) pernah terjadi pertemuan para ulama di rumah Kiai Anwar Batang di Alas Roban, yang dihadiri oleh Kiai Nawawi Banten beserta ulama Banten, Kiai Kho...

Alquran merupakan pedoman dalam kehidupan

Alquran merupakan pedoman dalam kehidupan Disunatkan menangis ketika membaca alquran, dan berusaha untuk menangis terhadap yang tidak mampu, dan membaca dalam keadaan gundah dan khusyu'. Imam nawawi dalam syarah muhazzab mengatakan " Adapun cara agar dapat menangis pada saat membaca Al-Qur’an adalah dengan cara menghadirkan kesedihan didalam hati dengan membayangkan peringatan serta ancaman-ancaman yang keras untuk kemudian merenungi kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat akibat keteledorannya dan apabila cara tersebut tidak mampu membuatnya menangis, maka menangislah atas kegagalan tersebut karena sesungguhnya hal itu adalah musibah yang besar.  Wallahu a’lam bis shawab.  referensi يُسْتَحَبُّ الْبُكَاءُ عِنْدَ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ وَالتَّبَاكِي لِمَنْ لَا يَقْدِرُ عَلَيْهِ وَالْحُزْنُ وَالْخُشُوعُ قَالَ فِي شَرْحِ الْمُهَذَّبِ: وَطَرِيقُهُ فِي تَحْصِيلِ الْبُكَاءِ أَنْ يَتَأَمَّلَ مَا يَقْرَأُ مِنَ التَّهْدِيدِ وَالْوَعِيدِ الشَّدِيدِ وَالْمَوَاثِيقِ وَالْعُهُودِ...

KISAH TERBUNUH SAIDINA UTSMAN

 KISAH TERBUNUH SAIDINA UTSMAN Dari Azzuhri: aku katakan bagi Ibnu Musayyab, bolehkah engkau ceritakan tentang pembunuhan Saidina Usman dan mengapa Sabahat Rasulullah membiarkannya? Berkata Ibnu Musayyab: Saidina Usman dibunuh dengan didhalimi sedangkan orang yang membunuhnya adalah orang yg dhalim, dan orang yang membiarkannya karena keozoran.. Bagaimana demikian? Tatkala Beliau memimpin, membenci atas kepimpinannya oleh sebagian sahabat karena beliau lebih mencintai kaumnya, dan terlebih banyak melantik bani umayah yg mana mereka bukan sahabat, Dan dengan kepimpinannya beliau memberlakukan hal-hal yang dibenci oleh sebagian sahabat tersebut, Pada 6 tahun terakhir beliau memilih bani umayah dan melantik mereka tidak selain mereka dan memerintahkan dengan bertaqwa kepada Allah, Maka beliau melantik Abdullah bin Sarah Akan mesir, menetap ia beberapa tahun disana, maka datang penduduk mesir mengadukannya dan terdhalimi mereka darinya.. (Imam Adz-Dzahabi dalam Siyaru A’lâmin Nubalâ...